Perkenalkan Jason Vermeer, Pelatih 26 Tahun Berdarah Belanda & Indonesia
Pemain berdarah Indonesia di Belanda jelas bukan hal langka, beberapa nama bahkan sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan menjajaki karier di kompetisi Indonesia hingga membela timnas Indonesia.
Irfan Bachdim, Diego Michiels, Raphael Maitimo, hingga Stefano Lilipaly, adalah beberapa nama segar Belanda-Indonesia yang akan selalu kita ingat. Namun bagaimana dengan pelatih dengan status demikian?
Goal Indonesia berkesempatan untuk mengenal Jason Vermeer, pelatih sepakbola asal Belanda yang sangat kental darah Indonesia. Hal menarik lainnya adalah, usia Jason saat ini masih 26 tahun dan tengah berkarier di Tiongkok.
Ia memulai karier sepakbola, sebagai pemain tentunya, ketika masih berusia enam tahun. “Ketika usia 16-17 saya memiliki tiga cedera pergelangan kaki yang cukup parah, dan saya memutuskan untuk fokus pada kepelatihan,” buka Jason.
Dukungan penuh ia dapat dari orang sekitar dan relasi, Red Bull Salzburg menjadi tempat ia mengembangkan ilmu kepelatihan. Mulai melatih Ajax Camps & Clinics pada usia 18 tahun, lalu menikmati berbagai karier di Norwegia, Georgia, Spanyol, Rusia, hingga akhirnya gabung timnas Tiongkok U-19.
“Saat ini saya 26 tahun dan sudah memasuki tahun keempat di Tiongkok, tiga tahun terakhir saya bekerja untuk Beijing Sinobo Guoan sebagai pelatih individual,” beber Jason.
Darah Indonesia didapat Jason dari ibunya, dan ayahnya asal Den Haag. Yang menarik, ia masih memiliki ikatan saudara jauh dengan penyanyi kondang Indonesia tahun 90-an, Nike Ardilla, yang kini telah wafat.
“Kakek-nenek saya datang ke Belanda pada tahun 50-an, nenek saya lahir di Jakarta sementara kakek saya lahir di Cimahi. Keluarga Indonesia saya tinggal di Bandung, dan Jakarta. Bibi saya menikah dengan saudara lelaki Nike Ardilla, itu adalah kisah yang sangat menyedihkan tentangnya. Keluarga saya masih tinggal di rumah yang sama dengan yang kini mereka buat sebagai museum untuk Nike,” urai Jason.
Bandung jadi salah satu kota yang dituju Jason ketika menyambangi Indonesia, dan tentunya ia menaruh perhatian kepada Persib Bandung, dan sepakbola Indonesia secara umum. Mantan pemain Excelsior Rotterdam ini juga mengenal Nick Kuipers hingga Ezra Walian.
“Tahun lalu ketika saya berada di Bandung, saya membawa keluarga saya ke pelatihan Persib di mana saya bertemu Miljan Radovic, seorang teman dari kolega saya di Tiongkok. Sekarang, teman baik saya Nick Kuipers bermain untuk Persib sehingga koneksi saya ke Persib semakin kuat,” ucap Jason.
“Saya sangat senang mereka [Persib] telah memulai musim dengan sangat baik dan saya berharap mereka dapat terus melakukan upaya yang baik dalam memperebutkan gelar liga tahun ini,” urainya.
“Saya memiliki kontak dengan Ezra Walian selama beberapa tahun terakhir, dia berbakat. Dan saudara laki-laki Irfan Bachdim adalah teman saya, Fardy [Bachdim]. Saya selalu merasakan koneksi yang baik dengan pemain atau pelatih dengan akar bahasa Indonesia,” tambah Jason.
Saat ini Jason menikmati karier di Tiongkok, yang memang perkembangan sepakbolanya sangat pesat dan membuka banyak peluang untuk pelatih asing dari berbagai belahan dunia. Namun, bukan tak mungkin ia menjajal peruntungan di Indonesia di masa mendatang.
Pelatih legendaris asal Belanda, Wiel Coerver, jadi anutan Jason dalam melatih. Dijuluki Albert Einstein sepakbola, Wiel menerapkan metode yang berbeda untuk bisa mengembangkan potensi dari setiap pemain yang ia latih.
“Saya percaya pada metode Wiel Coerver, sebuah pengembangan total sepakbola individu dalam aspek teknis, taktis, fisik dan pribadi dalam cara sepakbola modern saat ini,” singkat Jason.
“Akan menjadi kebahagian besar untuk membantu sepakbola Indonesia berkembang dalam banyak hal. Saya tidak mengatakan bahwa cara saya adalah satu-satunya cara yang membantu mengembangkan sepakbola, tetapi saya yakin itu bisa sangat efektif dan bermanfaat bagi struktur dan filosofi sepakbola Indonesia saat ini. Saat ini saya sangat senang di Tiongkok dan kami melakukan pekerjaan dengan baik di sini, tetapi jika ada kesempatan di masa depan untuk bekerja di negara keluarga saya, saya akan mempertimbangkan dengan serius,” paparnya.
Secara umum, Jason menilai sepakbola Indonesia butuh fondasi di akar rumput. Struktur dan fasilitas latihan yang baik untuk pengembangan pemain muda, sehingga setiap klub bisa memproduksi pemain mereka sendiri.
“Saya pikir itu akan menjadi kombinasi yang sempurna untuk memahami budaya Indonesia yang dikombinasikan dengan pengetahuan sepakbola modern internasional,” tutupnya.